Skip to main content

Suamiku Genderuwo

 Pagi hari saya terjaga, karena ketukan pintu dan panggilan dari Ibu yang terus-terusan,

" Bangun nduk mau siang, kamu tidak kerja apa nduk? " Suara ibu dari balik pintu, yang menyengaja dia keraskan supaya kedengar olehku,

" Kerja ko Bu, Sesaat kelak Awal kluar " Sahutku dari dalam kamar,

" Telah siang ko baru bangun, cepat mandi kelak telat ke warung nya, " Suara Ibu ku lngsung menegur saat kepalaku menyumbul kluar pintu

" Iya bu " Ku patuhi perkataannya, Sampainya dalam kamar mandi kembali dan kembali, sesudah mimpi berjumpa dengan pria itu, sering kali ku dapatkan cairan warna kehitaman ini,

_______

Usai bersihkan tubuh, saya yang telah terlambat sedikit bekerja, langsung mohon pamit pada Ibu,

" Awal pergi ya bu, Assalamualaikum " Tanganku terulur menanti juluran tangan dari Ibu

" Hati Hati ya Din, Waalaikumussalam " Juluran tangan ibu langsung ku sikat, kucium punggung tangan ibuku dengan Takzim, tangan yang selalu membuat perlindungan dan memperkuatku.

__________

" Assalamualaikum paman, maaf Awal telat " Ucapku tidak nikmat, karena warung telah dibuka rapi oleh paman, tugas yang umumnya saya kerjakan,

" Iya tidak papah Din, sisi depan telah paman kelarkan, kamu segera ke blakang saja ya " pria yang ku tafsiran berusia 50 tahunan itu, baik sekali padaku, tidak cuma saya sepupunya, tetapi ke semuanya orang juga beliau baik sekali,

" Iya paman, maaf telah buat sulit paman " Saya termasuk sangatlah on time, nyaris tak pernah telat, karena mimpi tadi malam saya sampai bangun kesiangan.

" Gapapa Din, paman kembali nganggur ko, Masuk dahulu sana " kubalas ucapannya dengan Anggukan dan melangkah masuk ke warung.

________

Istirahat, Kami berganti-gantian untuk makan dan jaga warung, Di warung saya memiliki rekan bekerja namanya Mia, wanita , tetapi jarang-jarang bercakap ia semakin banyak diam, bicarapun bila ia perlu saja, kemungkinan telah karakternya semacam itu,

Saat ini waktunya saya yang Makan, Mia dan paman sedang Berjaga-jaga di muka, Selasai makan, Saya duduk sesaat saat sebelum meneruskan perjaanku, tau-tau paman tiba dan panggilku, saya mengikutiinya ke sisi paling blakang, gudang penyimpanan barang.

" Mengapa paman? ko ke sini? " Tanyaku penuh keheranan, kelihatan muka paman demikian serius yang tegas, tidak seperti umumnya,

" paman ingin berbicara sma km, Din, Apa kamu tidak berasa aneh Ahir ahir ini, apa tidak ada sesuatu hal yang mengusikmu? " tatapan mata paman padaku penuh periksa, kelihatan terang dengan suara bicaranya, tidak seperti umumnya,

" Tujuan paman bagaimana? Awal tidak merasakan hal aneh apa saja " Kebingungan saya belum mengetahui ke mana arah perbincangan paman sekalian bosku ini.

" Kamu menjaga diri kamu ya nduk, Hawamu bawa Udara yang negatif, entahlah kenapa paman terkadang menyaksikan seklebatan hitam ada di belakang mu " Sukses, perkataan paman ini betul-betul membuat bulu-bulu tengkukku meremang. pasalnya pamanku mempunyai kesensitifan lebih dibandingkan seseorang, walau tidak melikat bentuknya tetapi dia dapat rasakan hadirnya

" Paman tidak boleh nakutin saya ah, saya tidak merasakan hal aneh apa saja ko " Saya usaha sembunyikan ketakutanku, " apakan ini karena genderuwo yang akui sebagai suamiku itu " batinku menyetujui perkataan paman

" Biarlah, mudah-mudahan cuman hati paman saja, kamu telah istirahatnya din? tolong tolong Mia ya, di muka kembali ramai yang membeli "

" Iya paman " Saya melangkah kluar, Hatiku berbicara " apa saya Katakan saja mimpi mengenai pria itu pada paman ya? "

" paman " saya membalik tubuh dan panggil pamanku yang mulai memeriksa stock barang di gudang

" Iya awal, mengapa "

" tidak menjadi paman, maaf awal ke arah tempat mia dahulu " Tidak menjadi pikiranku membelok saat akan sampaikan mimpiku,

" Kelak saja lah, itu kan cuman mimpi, tetapi jika cuman mimpi lalu darimanakah hadirnya uang itu " batinku beradu dengan realita, siapa yang perlu saya katakan lebih dulu mengenai mimpiku ini. 

Comments