Skip to main content

teluh tumbal pring sedapur


 

Gelegar suara itu benar-benar keras kedengar sampai semua, yang semula menceritakan saat itu juga diam tutup mulut masing-masing, memerhatikan apa yang terjadi. Ibu yang keluar kamar cuman memeriksa kehadiran kami bertiga di sini, beliau cuman rekat memandang ke diriku sekarang.

Sesak napas berasa, tubuh panas saat itu juga sampai kepala pusing memutar. Pukulan itu pas berkenaan raga ini, tanpa tameng persiapan sekarang malah saya sebagai target pengetahuan setan ini.

"Al... Al...,!" suara ibu masih kedengar, walau tidak demikian lagi jelas.

Saya cuman kesakitan dengan perut sampai ke dada rasanya tidak karuan, panas mendidih. Saya cuman coba menarik napas sebisaku, menantang semampu ku. Dan sekarang mual ini makin kuat, usus seperti di pelintir. Deskripsi merasa sakit itu tak lagi dapat tercatatkan, hingga kemudian sebuah tenaga mengucur seperti angin yang lumayan kuat dari punggung ku. Menyebar berlahan dalam perut ini selalu naik merasa sakit itu.

Darah dengan benda aneh keluar mulut ini.

Sesudah disaksikan itu hancuran tulang belulang, yang paling kecil dan tajam. Muntahan itu banyak sampai mata ini tertutup tidak dapat kembali ingat apa saja.

Saya terjaga pada hari ke-2  sesudah peristiwa itu, bersamaan di mana hari itu pak Samsi wafat. Pagi barusan penyemayaman telah di kerjakan, semakin bertambah kembali kedukaan yang menerpa bu Laras dengan ke-2  anaknya.

Bising masyarakat masih kedengar di dalam rumah ini, saya cuman menemui muka ibu pas di depan ku saat buka mata.

"Minum ini Al!"

Air dengan bunga melati, dan tercium harum misik, rasanya juga benar-benar pahit saya telan berlahan. Surut panas di perut dada ini sesudah minum air itu.

Namun merasa sakit masih berasa. Perih cedera di pangkal kerongkongan sampai langit-langit mulut ini karena tulang yang tajam itu. Tubuh masih terasanya lemas, tenaga betul-betul terkuras habis.

"Pak Samsi wafat subuh barusan, kamu mikir apa sampai dapat terkena santet itu?" Ibuku berbicara, menerangkan bila suami bu Laras telah berpulang, beliau bertanya suatu hal.sebuah hal.

"Saya cuman berasa kasihan saja menyaksikan keluarga ini bu, tidak sampai hati melihat bu Laras pak Samsi. Ditambahkan lagi, anak-anak nya kelihatan ketakutan bu!" jawabku dengan terus meredam sakit.

"Ibu telah ngomong, bila tidak boleh mengasihani semuanya. Apa kamu tak ingat orang yang saat itu terkena, karena kasihan menyaksikan mertua mbak Laras wafat!" sebut ibu mengingati, dengan suara sedikit keras tekan ku.

Usaha saya tersenyum dan menggangguk pertanda pahami, tidak berapa lama beliau mohon pamit keluar untuk menentramkan keluarga almarhum khususnya temannya yang sekarang ini benar-benar perlu support beliau.

Saya masih tetap terkapar kurang kuat, tidak dapat bangun, seperti lumpuh saya rasa waktu itu. Cuman bernafas dan berdoa yang dapat saya kerjakan.

2 hari berakhir tanpa menyaksikan apa yang terjadi. Saat tersadarkan korban telah semakin bertambah kembali. Pagar gaib yang telah dibuat awalnya tembus oleh serangan setan-setan kiriman dukun itu. Semua belum capai akhirnya peperangan yang menakutkan ini. Benar-benar membuat takut saat mengetahui bila diri ini juga tanpa daya membendung pengetahuan hitam yang sakti.

Pintu terbuka, dan saya buka kembali mata, cara seorang kedengar merapat. Perlahan saya melihat ke itu, namun mata ini belum prima untuk menyaksikan, walau jarak dipan dengan pintu tidak demikian jauh. Kabur bayang-bayang itu terus merapat dan memulai berlahan terang nenek tua berkulit kerutan tiba mendekati. Tatapnya tajam walaupun nyaris setengah matanya tertutup kantung mata yang mengatup itu!

"Mbah Sareh!" Saya yang kaget menyaksikan figur beliau kembali.

"Hiiihiiii, ini makan agar sehat bagas sehat le!" beliau memberi potongan kemenyan sebesar ujung kelingking anak kecil padaku.

Saya cuman buka mulut ini, lalu mbah Sareh memasukkan benda itu. Benar-benar gampang masuk ke tanpa perlu ditelan. Tubuh terasanya benar-benar dingin, sampai tangan beliau menyeka perlahan dahiku yang membasah karena keringat. Saat sebelum kembali mata ini tertutup karena rasa mengantuk yang tanpa ketahan, sebuah senyuman terlihat kembali, sampai semua tanpa kelihatan kembali.


Sesudah sekian tahun lama waktunya sejak tatap muka saya dengan Nyai Sembrani di bukit Sepungkruk, sekarang beliau datang dengan bentuk yang serupa tepat sebagai mbah Sareh. Figur itu masih tetap manjing padaku, bersilahturahmi di antara kami rupanya tidak terputus.

Kembali saya terjaga, tetapi ada rasa lain di tubuh ini, seolah benar-benar sehat, tenaga telah kembali, bahkan juga berasa seolah tak pernah ada apa-apa pada diri ku awalnya. Tubuh fresh, cedera di langit-langit mulut ini lenyap sesudah saya raba dengan lidah ini.

Aku segera dapat berdiri tegak, jalan, keluar kamar dan menjumpai yang lain yang sedang bertahlilan di ruangan tamu.

Semua mata tertuju menyaksikan ke ku, bingung ibuku sesudah menyaksikan diri ini jalan mendekati. Senyuman hangat beliau kelihatan menentramkan, seolah mengartikan bila dianya telah memahami apa yang sedang terjadi dengan ku.

Cuman raut beberapa wajah duka cita itu tetap kelihatan terang dari mereka yang ditinggal pak Samsi. Ada untai senyuman di pojok bibir bu Laras bagiku, walaupun itu benar-benar berat dia datangkan.

"Bagaimana le, telah baikan?" Ibu menanyakan saat saya telah duduk dari sisi beliau.

"Alhamdulillah bu, sehat sekali saat ini" saya menjawab.

"Itu khodam tiba, memberi obat untuk kamu. Janganlah lupa mengucapkan terima kasih pada beliau yang telah lama jaga kamu sejauh ini" tambah ibu menerangkan.

Dari sana saya cuman bingung dengar jawaban itu, banyak sekali penjaga di diri ini, tanpa berasa apalagi kelihatan oleh mata. Mereka yang dulu pernah datang diperjalanan kehidupan ku sejauh ini jaga ku, seperti bayi yang tetap mereka asuh di mana juga ada.

Saya belum juga memahami seperti mana langkah mengucapkan terima kasih ke beberapa penjaga itu, sama seperti yang diminta ibu ku!

Sekarang saya cuman turut membacakan doa roh almarhum mendiang pak Samsi, sampai beberapa masyarakat mohon pamit untuk kembali lagi ke rumah semasing. Kemudian saya cuman turut duduk untuk mengobrol bila bu Laras dan anak-anak nya untuk saat ini harus berpindah disini, sampai semua kembali baik dan normal. Keinginan ini mempunyai tujuan bila telah waktunya semua teluh ini harus selekasnya di mengakhiri.

Sampai menjumpai mufakat bila esok pagi semuanya wajib tinggalkan rumah ini walau masih juga dalam kondisi berdukacita. Duka itu pasti jadi rasa yang paling berat buat mereka. Tanah makam masih basah, harus ditinggal untuk menghindar hadirnya maut kembali!


Keluarga bu Santi, adik kandungan dari mendiang pak Samsi, ingin memuat mereka. Walau sanak saudara lainnya malah menampik takut terkena dampak dari pengetahuan menyimpang ini. Lima bersaudara pak Samsi sebagai anak paling tua dari ke-4 adiknya, bu Santi adik paling kecil yang telah memiliki keluarga terketuk hatinya, berasa kasihan menyaksikan kakak ipar dan anak-anaknya terkatung-katung terlarut dalam duka hidup dengan merengkuh ketakutan oleh kematian yang kapan saja bisa mendekati mereka.

"Mbak Nach, percaya tidak ingin turut kami mbak?" bertanya bu Laras pada ibu.

"Doa kan saja mbak Laras, jika saya turut menemani mbak di situ, semuanya tidak pernah usai!" jawab ibu, pada teman dekatnya itu.

"Mudah-mudahan semua dalam naungan Allah ya mbak Nach, saya dan anak-anak tidak tahu harus seperti mana untuk semuanya ini," Bu Laras berkata sekalian merengkuh ibu ku.

Ibu ku cuman merengkuh, memperkuat teman dekatnya itu.

"Kamu harus kuat dengan semuanya mbak, sama berdoa, mudah-mudahan selekasnya semuanya usai. Bismillah mbak,"

Sekarang mereka pergi ke arah tempat tinggal adik iparnya, kami bertiga masih di sini dengan banyak mistis yang hendak di temui kelak. Kembali menyiapkan diri, iman, untuk kembali hadapi dukun dengan seribu jin kirimannya.


Berikan pada diri, bila dengan kepercayaan, maka di temui kemenangan.

Rintangan itu tidak selesai tanpa berani hadapi. Mengambil langkah walau harua mati di jalan sebagai ketetapan kebenaran.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita kerajaan tuyul di gunung Suru Sleman

    Bila kita bertandang ke Gunung Suru, Sleman, sering dihubungkan dengan tuyul, tipe makhluk lembut yang bertubuh kecil seperti anak-anak. Konon di Gunung Suru ada sebuah lokasi yang jadi kerajaan oleh tuyul. Sudah diketahui, Tuyul sendiri sebagai makhluk nyata seperti anak kecil yang kerap dipiara untuk mengambil uang. Banyak orang memiara Tuyul karena ingin kaya raya dan punyai banyak harta. Salah satunya lokasi yang konon sebagai istana tuyul ialah Gunung Suru, Sleman. Masyarakat sekitaran mengenali Gunung Suru sebagai tempat beberapa orang ambil tuyul untuk dipiara, selanjutnya diminta cari uang. Jika disaksikan dari mata orang biasa, tidak ada yang spesial dari wilayah Gunung Suru ini. Cuman ada bentangan ilalang dan pohon-pohonan tumbuh di bukit batu-batuan itu. Nach, salah satunya batu itu, yang dikatakan sebagai Watu Ogal-agil. Di batu berikut disebut pusat kerajaan tuyul ini ada. Letak watu ogal-agil cukup unik, karena ada di ujung tepi tebing. Disaksikan sepintas, ...

Mistik bangunan gedung tua warisan PKI

    Masuk bulan akhir September, bangsa Indonesia selalu diingatkan satu insiden historis. Ya, Pergerakan 30 September atau G30S yang sedang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di tanggal ini, dulu banyak jenderal Angkatan Darat dibunuh dengan bengis oleh banyak PKI. Banyak korban jenderal ini lantas diketahui dengan Pahlawan Refolusi. Tapi kegarangan PKI ini gak cuman terjadi di ibu-kota. Beberapa wilayah sangat juga tersohor dengan insiden yang libatkan PKI. Antara lainnya Jawa Timur. Juga banyak narasi seram berkaitan insiden ini. Sama yang diceritakan Dadang, masyarakat Jawa Timur ini. Menurut Dadang, sekarang dia tengah menyelesaikan sawah. Tempat sawahnya ini dulu sebagai tempat insiden kegarangan PKI. Juga gak jauh dari sawah milik dia itu, ada sebuah gedung tua dengan lantai tiga. Gedung tua ini udah lama didiamkan kosong. Tiada satu faksi lantas yang bermaksud menjatuhkannya. Termaksud pemda di tempat. Meski sebenarnya, gedung itu termasuk mengerikan. Manalagi t...

Kemunculan Figur Misteri di Jalan tol

  Di sosial media sekarang ini, bukanlah hal yang baru kembali bila tersebar photo atau video berkenaan figur misteri. Bahkan juga bisa saja beberapa figur misteri itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa yang berada di wilayah itu. Tersebarnya video atau foto mengenai figur misteri bisa juga membuat beberapa warganet yang ingin tahu. Figur misteri yang kerap kali ketangkap oleh camera yakni ada di jalan raya. Bahkan juga beberapa titik jalan raya yang cukup populer juga mempunyai cerita mistik tertentu. Belakangan ini tersebar sebuah video yang menunjukkan ada figur misteri ditengah-tengah jalan raya. Bahkan juga figur itu sukses ketangkap secara jelas oleh camera yang dipasang pada bagian depan mobil. Video yang tersebar di sosial media Instagram ini di upload oleh account @kisah_indah_seorang_sopir. Dalam video yang tersebar di sosial media ini dijumpai terjadi di Tol Cipali pada Jumat (19/4/2019) kemarin. Diringkas Liputan6.com dari account @kisah_indah_seorang_sopir, Kamis (25/...